| Kerumunan commuter di stasiun KRL saat jam sibuk di Stasiun Cawang |
Setiap pagi, jutaan orang di Jabodetabek melakukan hal yang hampir sama.
Bangun, bersiap, keluar rumah, lalu melakukan perjalanan menuju tempat kerja, sekolah, atau aktivitas lainnya.
Bagi sebagian orang, perjalanan itu hanya dianggap sebagai waktu yang harus dilewati sebelum sampai tujuan. Tetapi kalau kita perhatikan lebih jauh, perjalanan sehari-hari sebenarnya sudah menjadi bagian penting dari kehidupan kita.
Saya menyebutnya commute habits.
Commute habits merupakan kebiasaan kita dalam melakukan perjalanan sehari-hari—mulai dari kapan berangkat, memilih kendaraan, menentukan rute, berapa lama perjalanan, sampai bagaimana kita menghabiskan waktu selama perjalanan.
Dan ternyata, kebiasaan ini bukan sesuatu yang kecil.
Lebih dari 4,4 juta komuter
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Komuter Jabodetabek 2023 menunjukkan terdapat sekitar 4,41 juta komuter berusia 5 tahun ke atas di kawasan Jabodetabek. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,61 juta merupakan komuter untuk bekerja, sedangkan sekitar 800 ribu melakukan perjalanan untuk sekolah, kuliah, atau kursus.
Angka tersebut membuat saya berpikir.
Di balik angka 4,4 juta itu ada jutaan cerita perjalanan.
Ada orang yang berangkat ketika matahari belum terbit. Ada yang setiap hari menunggu kereta. Ada yang menghabiskan waktu di dalam mobil. Ada yang berpindah dari motor ke angkutan umum. Ada pula yang harus menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari.
Kita sering menyebutnya perjalanan rutin.
Padahal, kalau dikumpulkan selama bertahun-tahun, perjalanan itu bisa menjadi bagian yang sangat besar dari hidup kita.
Pagi hari dimulai lebih awal
Data BPS menunjukkan bahwa kebanyakan komuter Jabodetabek memulai perjalanan pada pagi hari.
Pada 2023, sekitar 3,49 juta komuter atau hampir 79 persen berangkat dari tempat tinggal pada pukul 06.00–06.59 atau 07.00–07.59. Bahkan sekitar 61.650 komuter sudah berangkat sebelum pukul 06.00.
Artinya, bagi jutaan orang, perjalanan menuju aktivitas utama dimulai ketika sebagian orang mungkin masih menikmati sarapan atau bahkan masih tidur.
Di sinilah commute habits mulai terbentuk.
- Kita belajar memperkirakan waktu bangun.
- Kita tahu kapan harus keluar rumah.
- Kita hafal jalan mana yang macet.
- Kita tahu stasiun mana yang ramai.
- Kita tahu jam berapa harus berangkat supaya tidak terlambat.
Tanpa sadar, perjalanan mengajarkan kita tentang manajemen waktu.
Perjalanan 30–59 menit adalah hal yang sangat umum
Ada satu angka lain yang menarik.
Dari sekitar 4,41 juta komuter Jabodetabek, 38,7 persen memiliki waktu perjalanan sekitar 30–59 menit. Sementara 21,1 persen menempuh perjalanan 60–89 menit, dan sekitar 14,4 persen membutuhkan waktu 90 menit atau lebih.
Bayangkan kalau seseorang membutuhkan waktu satu jam untuk berangkat dan satu jam untuk pulang.
Dalam satu hari, ada sekitar dua jam yang dihabiskan untuk perjalanan.
Kalau dilakukan lima hari dalam seminggu, waktunya menjadi sekitar 10 jam per minggu.
Dalam setahun, jumlahnya bisa mencapai ratusan jam.
Itulah sebabnya saya mulai melihat perjalanan bukan hanya sebagai "perpindahan dari titik A ke titik B".
Perjalanan adalah bagian dari waktu hidup kita.
Kendaraan pribadi masih mendominasi
Data BPS juga memperlihatkan bahwa kendaraan pribadi masih menjadi moda utama bagi sebagian besar komuter Jabodetabek.
Untuk perjalanan menuju tempat kegiatan utama, sekitar 3,49 juta komuter menggunakan kendaraan pribadi, sedangkan sekitar 862 ribu menggunakan kendaraan umum. Jika dihitung dari total komuter, porsinya kira-kira 79 persen kendaraan pribadi dan 19,5 persen kendaraan umum.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pilihan moda bukan sekadar persoalan "suka atau tidak suka".
Ada banyak pertimbangan di baliknya:
Waktu.
Biaya.
Kenyamanan.
Jarak.
Ketersediaan transportasi.
Kemudahan mencapai tujuan.
Karena itu, ketika seseorang memilih mobil, motor, KRL, bus, LRT, atau kombinasi beberapa moda, sebenarnya ia sedang membuat keputusan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan kecil yang terus berulang
Bagi saya, bagian menarik dari commute habits justru bukan pada kendaraannya.
Melainkan pada kebiasaan yang terbentuk karena perjalanan tersebut.
Misalnya:
Berangkat lebih pagi agar tidak terburu-buru.
Membawa bekal karena lebih hemat.
Mendengarkan musik atau podcast selama perjalanan.
Membaca berita ketika berada di transportasi umum.
Mengecek kondisi lalu lintas sebelum berangkat.
Memilih rute alternatif ketika jalan utama macet.
Atau bahkan hanya duduk diam selama perjalanan untuk mempersiapkan diri menghadapi hari.
Hal-hal tersebut terlihat sederhana.
Tetapi karena dilakukan berulang-ulang, akhirnya menjadi rutinitas.
Dan rutinitas yang dilakukan setiap hari memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan kita.
Commute habits bukan hanya tentang transportasi
Saya mulai melihat commute habits sebagai sesuatu yang lebih luas daripada sekadar "naik apa hari ini?"
Ia berkaitan dengan:
Bagaimana kita mengelola waktu.
Bagaimana kita memilih antara biaya dan kenyamanan.
Bagaimana kita menghadapi kemacetan.
Bagaimana kita menggunakan waktu perjalanan.
Bagaimana perjalanan memengaruhi pekerjaan dan keluarga.
Bahkan keputusan tempat tinggal juga bisa berkaitan dengan perjalanan.
Rumah yang lebih murah mungkin berarti perjalanan lebih jauh.
Rumah yang lebih dekat dengan tempat kerja mungkin berarti harga yang lebih tinggi.
Transportasi umum yang lebih baik mungkin membuat seseorang bersedia tinggal lebih jauh dari pusat kota.
Jadi, perjalanan sehari-hari sebenarnya ikut membentuk cara kita menjalani kehidupan.
Dari perjalanan menjadi kebiasaan
Itulah alasan saya tertarik dengan istilah Commute Habits.
Saya ingin melihat perjalanan sehari-hari dari sudut pandang yang lebih sederhana dan manusiawi.
Bukan hanya tentang berapa kilometer.
Bukan hanya tentang berapa menit.
Bukan hanya tentang berapa rupiah biaya perjalanan.
Tetapi juga tentang apa yang kita lakukan selama perjalanan dan bagaimana perjalanan itu memengaruhi kehidupan kita.
Karena pada akhirnya, kita mungkin tidak selalu bisa memilih ke mana harus pergi.
Tetapi kita masih bisa belajar memilih bagaimana menjalani perjalanan tersebut.
Perjalanan yang sama, jika dilakukan setiap hari, akhirnya menjadi bagian dari kehidupan kita.
Dan mungkin, dengan memahami commute habits kita sendiri, kita bisa menemukan cara untuk membuat perjalanan sehari-hari menjadi sedikit lebih efisien, nyaman, sehat, dan bermakna.
Komentar
Posting Komentar