Komuter Bukan Hanya Pengguna KRL Jabodetabek


Kalau mendengar kata komuter Jabodetabek, apa yang langsung terbayang?

Bagi banyak orang, jawabannya mungkin sederhana:

KRL.

Stasiun yang penuh.
Peron yang padat.
Kereta yang datang setiap beberapa menit.
Orang-orang berdesakan mengejar waktu.

Tidak salah.

Tetapi komuter bukan berarti pengguna KRL.

KRL hanyalah salah satu cara yang digunakan komuter untuk melakukan perjalanan.

Komuter adalah tentang orangnya, bukan kendaraannya

Secara sederhana, komuter adalah orang yang melakukan perjalanan rutin dari tempat tinggal menuju tempat aktivitas utamanya, seperti bekerja atau sekolah, terutama dengan melintasi batas wilayah administrasi.

Artinya, seseorang tidak menjadi komuter karena naik kereta.

Ia menjadi komuter karena pola perjalanannya.

Seorang warga Bekasi yang setiap hari bekerja di Jakarta adalah komuter.

Ia tetap komuter meskipun menggunakan:

KRL.

Motor.

Mobil.

Bus.

Ojek.

Atau bahkan kombinasi beberapa moda.

Jadi, kalau kita hanya membicarakan komuter melalui jumlah penumpang KRL, kita sebenarnya baru melihat sebagian dari cerita mobilitas Jabodetabek.


4,41 juta komuter, bukan 4,41 juta penumpang KRL

Data Survei Komuter Jabodetabek 2023 dari BPS mencatat sekitar 4,41 juta komuter berusia 5 tahun ke atas di kawasan Jabodetabek.

Angka ini sering kali mudah disalahartikan.

4,41 juta bukan berarti jumlah pengguna KRL.

Itulah jumlah orang yang termasuk dalam kategori komuter menurut survei BPS.

Dari jumlah tersebut, sekitar 3,61 juta orang melakukan perjalanan utama untuk bekerja, sedangkan sekitar 800 ribu orang melakukan perjalanan untuk sekolah, kuliah, atau kursus.

Jadi, ketika kita berbicara tentang 4,41 juta komuter, yang kita bicarakan sebenarnya adalah jutaan manusia dengan tujuan perjalanan dan pilihan moda yang berbeda-beda.

Mereka ada di mana-mana

Coba lihat Jabodetabek pada pukul 06.00 pagi.

Di stasiun, kita menemukan komuter.

Di jalan tol, kita menemukan komuter.

Di jalan arteri, kita menemukan komuter.

Di halte bus, kita menemukan komuter.

Di atas sepeda motor, kita menemukan komuter.

Di dalam mobil pribadi, kita juga menemukan komuter.

Mereka bergerak menuju tujuan yang berbeda.

Tetapi waktunya sering kali sama:

pagi hari.

Dan masalahnya sering kali sama:

bagaimana sampai tepat waktu?

Komuter mobil pribadi juga komuter

Ini bagian yang sering terlewat.

Seseorang yang tinggal di Bekasi kemudian setiap hari mengendarai mobil menuju Jakarta tetap merupakan komuter.

Begitu juga seseorang yang tinggal di Tangerang dan setiap pagi mengendarai sepeda motor menuju Jakarta.

Mereka mungkin tidak pernah masuk stasiun KRL.

Tetapi mereka melakukan perjalanan komuter.

BPS dalam Survei Komuter Jabodetabek 2023 menunjukkan bahwa kendaraan pribadi masih menjadi moda utama untuk perjalanan menuju tempat kegiatan utama.

Sekitar 3,49 juta komuter menggunakan kendaraan pribadi, sedangkan sekitar 862 ribu menggunakan kendaraan umum.

Angka ini memberikan pesan yang cukup jelas:

Cerita komuter Jabodetabek tidak bisa hanya diceritakan dari dalam gerbong kereta.

Sebagian besar cerita justru berlangsung di jalan raya.

Kenapa ini penting?

Karena cara kita memahami komuter akan memengaruhi cara kita merencanakan transportasi.

Kalau kita menganggap:

komuter = pengguna KRL

maka perhatian kita akan terlalu terpusat pada stasiun, kereta, dan jaringan rel.

Padahal komuter juga membutuhkan:

jalan yang lancar,

angkutan pengumpan,

halte yang nyaman,

integrasi antarmoda,

trotoar yang aman,

park and ride,

dan berbagai fasilitas lain yang membuat perjalanan dari rumah sampai tujuan menjadi lebih mudah.

Komuter tidak hanya membutuhkan kendaraan.

Komuter membutuhkan sebuah perjalanan yang utuh.

Perjalanan tidak berhenti ketika turun dari KRL

Bayangkan seseorang tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta.

Ia naik motor dari rumah menuju stasiun.

Kemudian naik KRL.

Turun di stasiun tujuan.

Lalu berjalan kaki atau naik ojek menuju kantor.

Pertanyaannya:

Dia pengguna moda apa?

Motor?

KRL?

Ojek?

Jawabannya:

semuanya.

Karena perjalanan manusia tidak selalu hanya menggunakan satu kendaraan.

Inilah yang disebut perjalanan multimoda.

Dan di sinilah konsep commute habits menjadi menarik.

Kita tidak hanya perlu bertanya:

"Kamu naik apa?"

Tetapi:

"Bagaimana kamu melakukan perjalanan dari rumah sampai ke tujuan?"

Komuter juga punya kebiasaan

Setiap orang mempunyai commute habits yang berbeda.

Ada yang selalu berangkat pukul 05.30 karena tahu jalan akan macet.

Ada yang memilih KRL karena lebih dapat diprediksi waktunya.

Ada yang tetap memilih motor karena lebih fleksibel.

Ada yang menggunakan mobil karena harus mengantar anak terlebih dahulu.

Ada yang mengombinasikan motor, KRL, dan berjalan kaki.

Ada pula yang memilih bekerja dari tempat tertentu agar waktu perjalanannya lebih pendek.

Semua itu adalah keputusan perjalanan.

Dan keputusan yang dilakukan berulang-ulang akan berubah menjadi kebiasaan.

Jadi, siapa komuter Jabodetabek?

Komuter bukan:

❌ hanya pengguna KRL.

Komuter adalah:

✅ pekerja yang setiap hari melintasi wilayah untuk bekerja.

✅ pelajar atau mahasiswa yang melakukan perjalanan rutin untuk pendidikan.

✅ pengguna motor.

✅ pengguna mobil.

✅ pengguna KRL.

✅ pengguna bus.

✅ pengguna kombinasi beberapa moda.

Mereka adalah orang-orang yang membuat Jabodetabek bergerak setiap hari.

Jangan melihat komuter dari kendaraannya

Mungkin ini cara yang lebih tepat untuk melihat persoalan transportasi.

Jangan mulai dengan pertanyaan:

"Berapa banyak orang naik KRL?"

Mulailah dengan:

"Berapa banyak orang yang harus melakukan perjalanan setiap hari?"

Kemudian tanyakan:

Dari mana mereka berangkat?

Ke mana mereka pergi?

Untuk bekerja atau belajar?

Kapan mereka berangkat?

Berapa lama perjalanan mereka?

Berapa biaya yang mereka keluarkan?

Moda apa yang mereka gunakan?

Apakah mereka berganti moda?

Dan mengapa mereka memilih moda tersebut?

Karena pada akhirnya, yang melakukan perjalanan adalah manusia, bukan kendaraan.

Dan mungkin ini yang paling penting

Ketika kita melihat antrean panjang kendaraan di jalan Jakarta, kita sering melihatnya sebagai kemacetan.

Ketika melihat antrean panjang di stasiun, kita menyebutnya kepadatan penumpang.

Tetapi kalau kita melihat lebih dalam, keduanya sebenarnya menceritakan hal yang sama:

jutaan manusia sedang berusaha mencapai tujuan.

Mereka hanya memilih cara yang berbeda.

Ada yang berada di dalam kereta.

Ada yang berada di dalam mobil.

Ada yang berada di atas motor.

Ada yang berada di dalam bus.

Ada yang berjalan kaki.

Mereka semua adalah bagian dari cerita komuter Jabodetabek.


Komentar