Dulu, ketika ingin membeli sesuatu, kita pergi ke toko.
Sekarang, cukup buka HP, pilih barang, bayar, lalu tunggu kurir datang.
Sederhana. Nyaman. Tetapi di balik satu kali checkout, sebenarnya terjadi perubahan besar dalam sistem logistik perkotaan.
Kita tidak lagi pergi mencari barang. Barang yang datang mencari kita.
Perkembangan e-commerce, terutama sejak pandemi Covid-19, membuat pola belanja masyarakat berubah dengan cepat. Marketplace menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk di kawasan Jabodetabek yang memiliki jumlah penduduk, aktivitas ekonomi, dan pergerakan barang yang sangat besar.
Perubahan ini ikut menggeser sistem logistik. Jika sebelumnya barang bergerak dari produsen ke distributor, lalu ke toko dan konsumen, kini barang semakin sering bergerak langsung menuju rumah pelanggan.
Akibatnya, rumah bukan hanya menjadi tempat tinggal. Ia juga menjadi titik akhir dari jutaan perjalanan logistik setiap hari.
Coba perhatikan lingkungan sekitar.
Motor kurir keluar-masuk perumahan. Mobil pengiriman berhenti di depan rumah. Paket datang hampir setiap hari.
Satu paket mungkin terlihat kecil. Tetapi jika dikalikan dengan jutaan transaksi, dampaknya menjadi persoalan perkotaan.
Dan persoalannya bukan hanya lalu lintas.
Ada harga lain di balik kenyamanan
Setiap paket membutuhkan kemasan.
Kardus, plastik, bubble wrap, selotip, dan material pelindung lainnya ikut bergerak bersama barang. Setelah paket dibuka, sebagian besar material tersebut tidak lagi memiliki fungsi bagi konsumen.
Barang disimpan.
Kemasan dibuang.
Di sinilah kenyamanan belanja online bertemu dengan persoalan sampah.
Data BPS yang dikutip dalam kajian ini menunjukkan bahwa pada 2018 hanya sekitar 1,2 persen rumah tangga yang mendaur ulang sampahnya. Artinya, pertumbuhan konsumsi digital tidak otomatis diikuti kemampuan pengelolaan sampah yang memadai.
Maka, ketika kita membeli satu barang secara online, sebenarnya ada dua perjalanan yang terjadi:
barang datang ke rumah, kemudian kemasannya berpotensi menjadi sampah.
Bukan sekadar soal jumlah paket
Untuk memahami dampak e-commerce terhadap transportasi Jabodetabek, kita tidak cukup menghitung berapa banyak paket yang dikirim.
Kita juga perlu melihat bagaimana paket-paket tersebut bergerak.
Dari mana barang berasal?
Di mana gudangnya?
Ke mana tujuan pengiriman?
Kendaraan apa yang digunakan?
Berapa banyak paket yang dibawa dalam satu perjalanan?
Apakah rutenya efisien?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena semakin cepat konsumen menginginkan barang, semakin kompleks pula sistem distribusi yang harus bekerja di belakangnya.
Harapan same day delivery dan instant delivery membuat waktu menjadi bagian dari persaingan e-commerce. Konsumen menginginkan barang semakin cepat, sementara kota harus menampung semakin banyak aktivitas distribusi.
Ketika belanja berubah, kota ikut berubah
Pertumbuhan e-commerce tidak berdiri sendiri.
Urbanisasi, pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, perkembangan teknologi, dan kebutuhan terhadap layanan yang cepat ikut mendorong pertumbuhan perdagangan digital.
Karena itu, e-commerce seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan perdagangan.
Ia juga merupakan persoalan transportasi dan logistik perkotaan.
Setiap transaksi digital pada akhirnya tetap membutuhkan pergerakan fisik.
Kita boleh membeli melalui layar.
Tetapi barangnya tetap harus bergerak melalui jalan.
Dan semakin banyak barang bergerak menuju rumah, semakin penting pula kita memikirkan bagaimana perjalanan tersebut dilakukan secara efisien dan berkelanjutan.
Mungkin persoalannya bukan apakah kita harus berhenti belanja online.
Pertanyaannya adalah:
Bagaimana membuat sistem yang memungkinkan barang sampai ke konsumen dengan lebih sedikit perjalanan, lebih sedikit kemasan, dan lebih sedikit dampak terhadap kota?
Karena pada akhirnya, satu klik checkout memang hanya membutuhkan beberapa detik.
Tetapi untuk membuat barang itu sampai ke depan pintu rumah, sebuah perjalanan panjang harus terjadi.

Komentar
Posting Komentar